Ada Satu Percakapan Keluarga yang Sering Kita Tunda

Pelayanan Kedukaan 24 Jam • Pendampingan Keluarga
Konsultan Resmi Al Azhar Memorial Garden
Memorial DirectorID AZHR-07146
Family Legacy Education Series • 02/20

Ada Satu Percakapan Keluarga yang Sering Kita Tunda

Bukan karena kita tidak menyayangi keluarga. Justru karena kita terlalu menyayangi mereka, ada beberapa topik yang terasa berat untuk dibicarakan—hingga akhirnya pembicaraan itu terus ditunda.

Ada percakapan yang mudah dimulai di meja makan. Tentang sekolah anak, rencana liburan, rumah, pekerjaan, kesehatan, bahkan pembagian tanggung jawab keluarga. Tetapi ketika pembicaraan menyentuh apa yang kita inginkan jika suatu hari harus berpulang lebih dahulu, suasana sering berubah.

Kita terdiam. Kita mengalihkan pembicaraan. Kita berkata, “Nanti saja.” Bukan karena topik itu tidak penting, tetapi karena kita takut pembicaraan tersebut terdengar seperti doa yang buruk.

Padahal membicarakan sesuatu tidak membuat sesuatu itu datang lebih cepat. Ada kalanya percakapan yang paling berat justru menjadi bentuk kasih sayang paling matang karena ia memberi keluarga kesempatan untuk saling memahami sebelum keadaan memaksa mereka mengambil keputusan.

Satu kalimat sederhana

“Kalau suatu hari salah satu dari kita harus pergi lebih dulu, apa yang ingin kita siapkan supaya yang tinggal tidak terlalu bingung?”

Tidak harus lebih jauh dari itu. Tidak harus langsung membicarakan harga. Tidak harus langsung memilih tempat. Bahkan tidak harus menghasilkan keputusan pada malam yang sama.

Yang penting adalah percakapannya pernah dimulai.

Mengapa Kita Sering Menghindarinya?

Ada beberapa alasan yang sangat manusiawi. Sebagian orang khawatir dianggap pesimis. Sebagian takut membuat orang tua sedih. Ada pasangan yang merasa pembicaraan tentang kematian akan merusak suasana. Ada pula yang berpikir bahwa urusan seperti itu sebaiknya dibicarakan nanti ketika usia sudah jauh lebih tua.

1

Takut dianggap mendoakan hal buruk

Padahal persiapan tidak menentukan kapan seseorang berpulang. Ia hanya membantu keluarga menghadapi sesuatu yang suatu hari pasti menjadi bagian kehidupan.

2

Merasa waktunya masih panjang

Karena keadaan sekarang baik-baik saja, pembicaraan dianggap belum perlu. Justru saat itulah keluarga sebenarnya memiliki ruang paling luas untuk berpikir tenang.

3

Tidak tahu harus memulai dari mana

Topiknya terlalu besar jika langsung dibuka dengan pertanyaan tentang makam. Percakapan akan terasa lebih ringan bila dimulai dari harapan dan kebutuhan keluarga.

4

Takut berbeda pendapat

Perbedaan pilihan justru lebih mudah diselesaikan ketika semua pihak masih sehat dan memiliki waktu untuk bermusyawarah.

Percakapan Ini Sebenarnya Bukan tentang Kematian

Jika dilihat lebih dalam, yang sedang dibicarakan bukan kapan seseorang akan meninggal. Yang sedang dibicarakan adalah bagaimana keluarga ingin saling menjaga jika suatu hari kehidupan berubah.

Seorang suami mungkin ingin istrinya tidak harus mencari lokasi pemakaman sambil menangis. Seorang ibu mungkin ingin anak-anaknya tidak berselisih karena tidak pernah mengetahui keinginannya. Seorang anak mungkin ingin memahami apa yang dianggap penting oleh ayah dan ibunya selama mereka masih dapat menjelaskannya sendiri.

Percakapan yang dilakukan saat keluarga masih lengkap dapat menjadi cara sederhana untuk meninggalkan lebih sedikit kebingungan bagi orang yang kita cintai.

Mulailah dari Nilai, Bukan dari Produk

Kesalahan yang sering terjadi adalah memulai pembicaraan dari angka: berapa harga makam, tipe apa, atau di mana tempatnya. Padahal bagi keluarga yang belum pernah membicarakan hal ini, pertanyaan tersebut bisa terasa terlalu jauh.

Mulailah dari sesuatu yang lebih dekat dengan hati keluarga.

“Kalau suatu hari terjadi sesuatu, apa yang paling ingin kita mudahkan untuk anak-anak?”
“Menurut Ayah/Ibu, tempat peristirahatan seperti apa yang membuat keluarga nyaman untuk datang berziarah?”
“Apakah ada keinginan tertentu yang sebaiknya kami ketahui sejak sekarang?”
“Kalau bisa dipersiapkan tanpa tergesa-gesa, apakah lebih baik kita pelajari dulu bersama?”

Pertanyaan seperti ini tidak menuntut keputusan. Ia hanya membuka pintu.

Panorama tenang Al Azhar Memorial Garden sebagai bahan pertimbangan keluarga dalam merencanakan tempat peristirahatan
Melihat suasana nyata dapat membantu keluarga membicarakan kebutuhan dengan lebih konkret tanpa harus terburu-buru mengambil keputusan.

Ketika Orang Tua Masih Bisa Menyampaikan Keinginannya

Ada sesuatu yang berbeda ketika seorang anak mendengar langsung keinginan ayah atau ibunya dibanding harus menebaknya di kemudian hari.

Selama orang tua masih sehat, kita bisa bertanya dengan lembut: apakah mereka ingin dekat dengan pasangan, apakah mereka mempunyai perhatian tertentu mengenai syariah, apakah akses ziarah keluarga penting bagi mereka, atau apakah mereka justru tidak memiliki preferensi khusus.

Jawaban apa pun layak dihormati. Tujuan percakapan bukan membujuk orang tua untuk memilih sesuatu, melainkan mengurangi kemungkinan anak harus menebak-nebak ketika keadaan sudah berubah.

Tidak semua keluarga siap membicarakannya dengan cara yang sama. Ada orang tua yang terbuka, ada yang membutuhkan waktu. Jangan memaksa. Satu pertanyaan yang disampaikan dengan kasih sayang lebih baik daripada percakapan panjang yang membuat mereka merasa ditekan.

Bagaimana Jika Pasangan Tidak Ingin Membicarakannya?

Jangan jadikan pembicaraan ini sebagai perdebatan. Jika pasangan berkata belum nyaman, hormati. Bisa jadi ia membutuhkan waktu, konteks yang lebih baik, atau cara pembukaan yang lebih lembut.

Daripada mengatakan, “Kita harus segera menyiapkan makam,” lebih nyaman mengatakan:

Bahasa yang lebih lembut

“Aku tidak ingin membahas sesuatu yang menakutkan. Aku hanya ingin suatu hari kita tidak meninggalkan terlalu banyak keputusan berat kepada anak-anak.”

Perbedaannya besar. Kalimat pertama terdengar seperti keputusan sudah dibuat. Kalimat kedua mengajak memahami alasan di balik persiapan.

Ada Waktu untuk Mendengar, Bukan Hanya Berbicara

Percakapan keluarga bukan presentasi. Kita tidak perlu datang membawa brosur, daftar harga, dan argumentasi. Yang lebih penting justru mendengar apa yang membuat pasangan atau orang tua tidak nyaman.

Mungkin masalahnya bukan makam. Mungkin masalahnya biaya. Mungkin mereka mempunyai pengalaman buruk dengan pemakaman. Mungkin ada kekhawatiran mengenai hukum Islam. Atau mungkin topik kehilangan seseorang memang masih terlalu sensitif.

Ketika alasan sebenarnya diketahui, barulah informasi dapat diberikan dengan tepat.

Jika keluarga masih merasa tabu membicarakan persiapan makam, baca juga artikel sebelumnya: Mengapa Persiapan Makam Sebaiknya Dibicarakan Saat Keluarga Masih Lengkap?

Tidak Semua Percakapan Harus Berakhir dengan Keputusan

Ada pembicaraan yang hasil terbaiknya bukan “ya” atau “tidak”. Hasil terbaiknya adalah keluarga menjadi sedikit lebih memahami satu sama lain.

Mungkin setelah berbicara, keluarga hanya sepakat untuk mencari informasi. Mungkin ingin melihat beberapa pilihan. Mungkin ingin bertanya mengenai hukum Islam. Mungkin belum ingin melakukan apa pun.

Semuanya tidak masalah.

Karena persiapan yang sehat bukan tentang memaksa sebuah keputusan. Ia tentang mengubah sesuatu yang sebelumnya tabu menjadi sesuatu yang dapat dibicarakan dengan tenang.

Keluarga melakukan survei kawasan pemakaman dengan suasana tenang dan akses yang mendukung kebutuhan anggota keluarga
Ketika sebuah keluarga sudah siap melangkah lebih jauh, melihat langsung lokasi dapat menjadi bagian dari proses memahami—bukan kewajiban untuk langsung membeli.

Satu Percakapan Kecil Bisa Menjadi Awal yang Baik

Malam ini tidak perlu membuka diskusi keluarga besar. Tidak perlu membuat agenda khusus. Bahkan mungkin cukup satu kalimat saat sedang duduk bersama pasangan.

“Aku cuma ingin kita sama-sama tahu apa yang penting bagi masing-masing, supaya suatu hari anak-anak tidak harus menebak.”

Lalu dengarkan.

Jika percakapan berhenti sampai di sana, tidak apa-apa. Yang selama ini tidak pernah dibicarakan akhirnya mempunyai sebuah pintu.

Dan ketika suatu hari keluarga ingin melanjutkan pembicaraan itu—tentang syariah, kebutuhan orang tua, tipe makam, lokasi, atau pilihan lain—mereka memulainya bukan dari ketakutan, melainkan dari pemahaman.

Hari ini cukup mulai percakapannya

Tidak perlu menentukan pilihan makam sekarang. Jika ingin memiliki bahan yang netral untuk dibaca bersama keluarga, lanjutkan melalui Pusat Edukasi Persiapan Makam Keluarga. Bila suatu saat ingin melihat suasana Al Azhar Memorial Garden, virtual tour dapat menjadi langkah awal tanpa komitmen pembelian.

ZM
Zulhamdi M. Sa’ad, Lc.
Memorial Director • Syariah Family Legacy Advisor • ID AZHR-07146

Pendampingan keluarga untuk mempelajari pilihan pemakaman Muslim melalui edukasi, musyawarah, dan keputusan yang tenang.

FAMILY LEGACY EDUCATION SERIES • 02 DARI 20 Selanjutnya: Ketika Kedukaan Datang, Mengapa Keputusan Sederhana Terasa Begitu Berat?

Setelah membuka ruang percakapan keluarga, artikel berikutnya membantu memahami mengapa pada saat kedukaan datang, keputusan yang biasanya sederhana dapat terasa jauh lebih berat.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top